RSS

Produk Indonesia merambah Kanada


Toronto – Dalam rangka memasarkan produk Indonesia di wilayah kerja, KJRI Toronto untuk ketiga kalinya telah mensponsori keikutsertaan pengusaha Indonesia pada pameran makanan dan minuman terbesar di Kanada “CRFA (Canadian Restaurant and Foodservices Association) show”, tanggal  6 – 8 Maret 2011, bertempat di Direct Energy Centre,  Exhibition Place, Toronto, Kanada.

Acting Konjen RI Toronto dan sekaligus koordinator fungsi ekonomi KJRI Toronto, Bapak Harlan Hakim mengatakan bahwa untuk pameran kali ini, KJRI Toronto menyiapkan satu booth. Pengusaha Indonesia yang berpartisipasi pada CRFA 2011, yaitu: JS Tunggal Group Inc / Glopac, Cikarang; PT Lintang Visikusuma, Jakarta (Indonesia); dan Muncul Blessing Ltd (Kanada). Disebutkan bahwa Glopac Internasional beserta JS Tunggal Group pada pameran tersebut kembali mempromosikan produk mangkok kertas tahan panas dengan berbagai ukuran. Keikutsertaan tahun ini, merupakan yang ketiga kali bagi JS Tunggal / Glopac. Produk mangkok kertas buatan Indonesia tersebut mendapatkan pasar yang bagus. Hal disebabkan kualitas produk yang ditawarkan sangat tinggi dan bentuknya yang inovatif. Sekalipun air yang dituangkan ke mangkok sangat panas, namun bagian luar dari mangkoknya tidak terasa panas.

Selama tiga hari pameran, terdapat sebanyak 31 perusahaan yang menyatakan ketertarikan mereka untuk menggunakan mangkok buatan Glopac dan meminta untuk ditindaklanjuti. Dari hasil pertemuan dengan calon-calon buyer dapat disimpulkan bahwa prospek pasar Kanada sangat bagus dan akan terus berkembang. Sebagai perbandingan, pada tahun 2009 ketika pertama kali mengikuti CRFA, pengiriman kontainer oleh Glopac ke distributornya JS Tunggal di Kanada hanya sebanyak  1,5  20ft kontainer, namun meningkat menjadi 5 buah 20ft kontainer tahun 2010 dan sampai dengan pemesanan bulan Mei 2011, JS Tunggal telah berhasil memesan sebanyak 5 buah 20ft kontainer. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah sejalan dengan bertambahnya jenis produk mangkok yang ditawarkan dan penindaklanjutan dari hasil pameran. Tahun ini, Glopac menambah lini produknya, yaitu mangkok ice cream, yang ternyata juga sangat diminati pasar Kanada. Sebagian café memesan produk mangkok tersebut dengan desain mereka sendiri.

Adapun perusahaan Muncul Blessing Inc. mempromosikan produk minuman kesehatan,  jamu dan permen herbal Indonesia buatan Sido Muncul, antara lain:  minuman kesegaran ESTE EMJE, jamu tolak angin dan permen kesehatan (jahe wangi/gingerbre, kunyit asam/tamarind; tolak angin / peppermint candy). Muncul Blessing menjadi sole agent PT Sidomuncul Indonesia di Kanada. Selama pameran, produk Sidomuncul, khususnya ESTE EMJE dan permen-permennya cukup diminati pengunjung. Beberapa pengusaha pengecer telah mengatakan keinginan mereka untuk menyalurkan maupun menjual komoditas yang ditawarkan. Sedangkan para pemilik restoran yang berkunjung juga berminat untuk memesan ESTE EMJE untuk ditawarkan dalam menu di restoran mereka dan juga membeli permen-permen dalam partai besar yang selanjutnya disuguhkan kepada tamu restoran sebagai pencuci mulut. Salah satu penyalur produk makanan dari Indonesia telah menyatakan keinginannya untuk memasukkan produk Sidomuncul ke toko-toko swalayan di Toronto dan sekitarnya. Salah satu toko Belanda di Markham telah memesan produk permen dan ESTE EMJE. Sebagian besar pengunjung yang mencoba sampel minuman ESTE EMJE, datang kembali untuk mencoba minuman tersebut. Mr. Ali salah satu distributor jasmine rice yang membuka booth di seberang booth Indonesia bahkan secara reguler selama pameran meminta minuman ESTE EMJE.

CRFA merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan produk makanan maupun produk keperluan restoran buatan Indonesia di Kanada. Secara keseluruhan hasil yang dicapai pengusaha Indonesia dalam CRFA cukup memuaskan. Keikutsertaan pengusaha Indonesia dalam CRFA dapat dijadikan pula sebagai pengenalan merk dagang  produk-produk makanan dan kebutuhan restoran buatan Indonesia di pasar Kanada. KJRI Toronto akan terus mendorong pengusaha Indonesia untuk berpartisipasi pada CRFA.

(Sumber: KJRI Toronto)

 

Indonesia dan Kanada


Sodare – sodari,

Ternyata ga cuma produk Kanada aja yang dateng ke Jakarta, produk kita pun ada disana. Berikut sedikit wacana yang saya ambil dari tabloid diplomasi.

Kanada adalah Negara G-8 yang pertumbuhan ekonominya paling cepat dalam lima tahun terakhir, dengan GDP mencapai C$ 1,432 triliun dan pendapatan perkapita sebesar C$ 42.738. Dengan pendapatan sebesar itu, Kanada berpotensi sebagai pasar yang bagus bagi pemasaran produk Budaya Indonesia , baik untuk produk barang maupun produk jasa.

Komposisi penduduk Kanada yang multikultur juga merupakan potensi dalam semakin variatifnya produk yang dibutuhkan. Jumlah penduduk Kanada saat ini sebesar 33,227 juta jiwa, dengan rincian sebanyak 12,7 juta berada di Ontario, 7,7 juta di Quebec dan 4,3 juta di British Columbia. Pada tahun 2011 diperkirakan sekitar 30% penduduk Kanada akan mencapai usia 55 tahun atau lebih, jumlahnya lebih banyak dari penduduk yang berusia dibawah 25 tahun. Proporsi penduduk Kanada yang berusia 65 tahun ke atas juga akan meningkat, dimana jumlah aktual pensiunan akan meningkat jauh lebih tajam karena adanya kecenderungan untuk pensiun awal (antara usia 55-64).

Kaum tua Kanada merupakan pasar yang cukup atraktif, karena tumbuh dengan cepat dan terspesialisasi. Banyak permintaan dan peluang bisnis di bidang perjalanan, menjaga kebersihan rumah, renovasi rumah, pelayanan pengantaran, produk-produk kesehatan, pelayanan kesehatan, mainan dan peralatan bayi. Trend ini diprediksi akan terus berlanjut pada dekade yang akan datang, karena baby boomer (mereka yang lahir antara 1940-1965) di Kanada akan mulai memasuki masa pensiun. Pasar baby boom ini diperkirakan akan memerlukan produk anti aging, anti stress, dan stress relief yang dapat disuplai dari produk herbal atau produk natural.

Oleh karena penduduk Kanada lebih mengutamakan karir dan rekreasi, maka mereka tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Sebagai akibatnya, produk-produk yang bisa menghemat tenaga dan waktu mereka menjadi semakin popular di Kanada. Disamping itu bertambahnya kebutuhan dan permintaan kepemilikan rumah, telah mengakibatkan peningkatan yang tajam pada kebutuhan pembangunan rumah baru, renovasi dan perbaikan perumahan, dan ini juga berarti pasar untuk produk furniture, dekorasi rumah dan handicraft.

Akibat dari penurunan angka perkawinan, peningkatan perceraian, peningkatan usia menikah dan jumlah wanita yang berusia panjang, telah mengubah karakteristik rumah tangga di Kanada. Saat ini rumah tangga dengan hanya satu anggota keluarga berjumlah 26 %, keadaan ini mengakibatkan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan produk-produk praktis, seperti makanan cepat saji dan peralatan pengolahnya.

Kebutuhan akan produk liburan dan pelayanan juga bertambah, karena orang Kanada semakin sering bepergian baik di dalam maupun ke luar negeri. Jumlah perjalanan yang membutuhkan penginapan di luar negeri sekitar 41,8 juta di tahun 2004, meningkat 6,5 % dari tahun sebelumnya. Sebesar 86 % tujuan bepergian adalah ke Amerika Serikat, tetapi belakangan terjadi peningkatan sekitar 13 % untuk perjalanan ke negara selain Amerika Serikat. Pada tahun 2004 penduduk Kanada menghabiskan C$ 20,7 miliar di luar negeri, naik 11,4 % dari tahun sebelumnya.

Nilai pasar produk pakaian dan tekstil Kanada pada tahun 2005 sekitar US$ 21 milyar dan tumbuh 1,7% pada tahun 2006. Indonesia menempati urutan ke-8 sebagai negara pengekspor produk tersebut dengan nilai US$ 169,79 juta atau sekitar 1,53 % dari total pangsa pasar. Pesaing utama Indonesia dalam produk pakaian dan tekstil ini adalah Cina, AS, India, Bangladesh dan Meksiko. Indonesia berpeluang untuk memasok produk segar dan inovatif, terutama untuk konsumen muda, baby boomer dan pasar imigran.

Penjualan retail produk furniture di Kanada pada tahun 2006 mencapai US$ 760,5 juta dan diestimasikan akan tumbuh sebesar 4,3 % pertahun. Indonesia menempati posisi ke-11 negara asal impor produk furniture ke Kanada pada tahun 2007 dengan nilai US$ 49,04 juta atau sekitar 0,74 % pangsa pasar di Kanada. Negara pesaing untuk produk furniture adalah AS, Cina, Meksiko, Itali, Malaysia dan Vietnam. Persaingan meningkat dengan tajam terutama dari produsen berbiaya rendah seperti Cina dan Vietnam.

Warga Kanada sangat tertarik dengan produk-produk kerajinan, dekorasi rumah dan giftware, terutama dari negara-negara eksotis. Permintaan domestik Kanada pada tahun 2006 terhadap produk kerajinan ini bernilai US$ 1 milyar. Indonesia adalah negara asal impor ke-8 pada tahun 2007 dengan nilai impor sebesar US$ 85,27 juta atau sekitar 0,82 % dari seluruh nilai impor Kanada. Pesaing Indonesia untuk produk kerajinan, dekorasi rumah dan giftware ini adalah AS, Cina, Jerman, Perancis dan Finlandia.

Pasar retail perhiasan dan asesoris fashion Kanada pada tahun 2006 bernilai lebih dari US$ 2,1 milyar dan tumbuh sebesar 4,3 % per tahun. Indonesia hanya menempati urutan ke-33 sebagai negara asal impor untuk produk perhiasan dan asesoris fashion pada tahun 2007 ke Kanada, dengan nilai impor sebesar US$ 5,84 juta atau sebesar 0,09 % dari pangsa pasar. Mengalami penurunan jika dibanding pencapaian nilai impor pada tahun 2006 sebesar 0,10 %. AS, Peru, Cina, Meksiko, Chili dan India adalah negara-negara pesaing utama Indonesia dalam produk perhiasan dan asesoris fashion ini.

Taman Sari Mustika Ratu Spa di Whistler, BC adalah perusahaan Indonesia yang sudah memasarkan produk kosmetik, kecantikan, herbal dan Indonesia spa treatment kepada publik Kanada. Persaingan dalam bisnis di bidang ini cukup ketat, terutama dengan produk-produk spa dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu masuk ke pasar Kanada, seperti European style spa, Thai spa, Japan spa dan lain-lainnya.

Peluang pasar produk kosmetika, spa dan produk kecantikan di Kanada sangat menjanjikan, karena baby boom generation yang berusia 45-60 tahun memerlukan produk anti-aging dan stress-relief yang terutama terbuat dari bahan-bahan alami. Warga etnik dan keturunannya di Kanada memiliki tekstur kulit dan rambut yang berbeda dengan bangsa Eropa, oleh karena itu mereka memerlukan produk perawatan kulit dan rambut tersendiri yang biasanya mencari produk perawatan etnik.

Golongan metro sexual di Kanada juga merupakan peluang pasar bagi produk-produk ini, disamping juga warga Kanada yang menyukai penampilan, perawatan tubuh alami dan kebutuhan untuk wellness massage treatment spa. Indonesia merupakan negara asal impor ke-15 untuk produk pakaian dan barang kerajinan dari kulit ke Kanada dengan nilai impor sebesar US$ 5,73 juta dan memasok 0,52 % pangsa pasar. Pesaing utama dalam produk ini dating dari Cina, AS, Italia, India, Meksiko, Vietnam, Thailand dan Filipina. Pada tahun 2004 impor Kanada untuk produk pakaian dan barang kerajinan dari kulit ini mencapai US$ 365,1 juta.

Permintaan produk makanan olahan di Kanada mencapai omset sebesar US$ 110 milyar per tahun. Hal ini karena jumlah imigran atau warga etnik Asia dan warga Kanada lainnya yang menggemari masakan etnik, termasuk masakan Indonesia, terus bertambah. Karena kesibukan dan kemandirian, warga Kanada cenderung menggemari masakan siap saji atau bumbu masakan etnik dan masakan yang mudah mengolahnya.

Indonesia dalam hal ini menempati urutan ke-38 dengan nilai impor sebesar US$ 25,24 juta atau setara 0,21 % pangsa pasar. Produk makanan cepat saji Indonesia yang sudah masuk ke Kanada adalah mie goreng, mie rebus, kecap, sambal, bumbu masakan tradisional Indonesia, keripik tempe, emping, kacang-kacangan dan lain-lainnya. Pesaing utamanya adalah Thailand, India, Singapura, Jepang dan Korea.

Sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang sudah makmur, pariwisata adalah bagian dari gaya hidup masyarakat Kanada. Akhir-akhir ini Asia merupakan tujuan wisata penting orang Kanada. 40 % perjalanan ke luar negeri orang-orang Kanada adalah untuk berlibur atau wisata dan 34 % nya adalah untuk mengunjungi kerabat.
Meskipun penduduk Kanada tidak terlalu banyak, namun potensi pendapatan perkapitanya yang cukup besar dan struktur bangsanya yang multikultur, memberikan peluang yang cukup bagus untuk meningkatkan pangsa pasar produk-produk Indonesia.[]

Sumber:  http://www.tabloiddiplomasi.com

 

Quebec Offers Fast-Tracked Canadian Citizenship to International Students


In a move that may be designed to take advantage of Australia’s and Britain’s recent problems in the Indian-student market, Quebec is offering Canadian citizenship to international students who graduate from any university in the province.

The province’s premier, Jean Charest, who is leading a delegation of university heads on a visit to India, told students and experts at the University of Mumbai on Monday that, beginning on February 14th, international students who graduate from universities in Quebec would get “a certificate of selection” that would put them on a fast track to Canadian citizenship.

According to The Times of India, Charest told the packed house that, “Any student who secures a bachelor’s, master’s, or doctoral degree from any university in Quebec will obtain a certificate of selection to become a citizen of Canada.” Mr. Charest said that once foreign students had the certificate, the federal government would then carry out security and health checks before awarding citizenship.

The premier’s announcement may encourage Indian students to think about Canada, especially in the wake of recent issues in two popular countries of study. In Australia, racial violence against Indian students has increased, and the sudden closure of four colleges left thousands of Indian students without credentials, while in the U.K., a report over the weekend revealed that British authorities had temporarily suspended all student-visa applications from northern India, Nepal, and Bangladesh. According to the British Broadcasting Corporation, British officials feel the system has been overwhelmed and there are concerns that many cases are not genuine.

The move by Quebec reflects a broader national interest in focusing on India. Canadian universities appear to be showing an increased interest in strategic engagement with India, and Quebec universities, like their counterparts in other provinces, already have a number of partnerships with Indian institutions.

A pilot project run by Canadian immigration authorities and community colleges to speed up applications from India has doubled the acceptance rate, according to a report released by the government in late January. It showed that processing visas took an average of about two and a half weeks. The program is designed to uncover any fraud with a variety of checks, including a requirement that applicants provide verifiable documentation and a feedback mechanism in which colleges report back on whether students show up.

Additionally, the Association of Universities and Colleges of Canada (AUCC) recently published a guidebook designed to assist universities and colleges in identifying good practices for recruiting international students in India.

Canadian Press

 

Vancouver kota ternyaman peringkat 1 di dunia


Recently announce the news and read it in Yahoo…..

Kota Vancouver di Kanada masih menduduki posisi teratas sebagai tempat yang paling nyaman untuk ditinggali. Kota lainnya yang menempati urutan kedua dan ketiga adalah Melbourne (Australia) serta Vienna (Austria).

Peringkat ini tidak berubah sejak 2007. Kota lainnya yang baru masuk 10 besar kota ternyaman adalah Auckland (Selandia Baru).

Dalam survei tahunan yang dilakukan majalah The Economist, rating Vancouver untuk menyediakan fasilitas kepada penduduknya adalah 98 persen. Selain aman, kota-kota ini dilengkapi perawatan kesehatan, budaya dan lingkungan, serta pendidikan dan infrastruktur.

“Kota yang tidak terlalu besar di negara maju, dengan jumlah penduduk lebih sedikit, mendapat skor yang lebih tinggi,” kata Jon Copestake, editor The Economist. Kota kecil ini dilengkapi layanan infrastruktur yang bagus, tingkat kejahatan yang rendah, tanpa macet, dan lebih berbudaya.

Kota-kota di Amerika Serikat tak tercatat dalam 20 besar. Dalam survei tersebut, Pittsburgh menempati urutan teratas dibanding kota lainnya di Negeri Abang Sam itu. Namun peringkatnya hanya bertengger di posisi ke-29. Sedangkan Los Angeles berada pada urutan ke-44 dan New York pada peringkat ke-56. London naik peringkat, berada di posisi ke-53, sedangkan Paris bertengger pada peringkat ke-16.

Untuk Asia, kota ternyaman adalah Osaka di Jepang yang menduduki peringkat ke-12. Tokyo berada di posisi ke-18. Hong Kong dan Beijing masing-masing berada di posisi ke-31 dan 72.

Survei ini juga menyebutkan kota yang paling tak nyaman untuk ditempati. Harare, ibu kota Zimbabwe, menempati urutan terbawah dengan rating 37,5 persen. Meski demikian, kota ini menggeser Dhaka, ibu kota Bangladesh yang sebelumnya menempati posisi ini.

Economist Intelligence Unit melakukan survei berdasarkan 30 faktor, antara lain kesehatan, budaya, lingkungan, pendidikan, dan keamanan pribadi.

 

Canada Social Programs


The social infrastructures of Canada include all government programs designed to give assistance to all its citizens. The Canadian social safety net covers a broad spectrum of programs, and because Canada is a federation, many are run by the provinces. Canada has a wide range of government transfer payments to individuals, which totalled $145 billion in 2006. Only social programs that direct funds to individuals are included in that cost; programs such as Medicare and public education are additional costs.

Generally speaking before the Great Depression, most social services were provided by religious charities and other private groups. Changing government policy between the 1930s and 1960s saw the emergence of a welfare state, similar to many Western European countries. Most programs from that era are still in use, although many were scaled back during the 1990s as government priorities shifted towards reducing debt and deficit.

  1. HousingCanadian mortgages are insured by the federal Canadian Mortgage and Housing Corporation and most provinces have ministries in charge of regulating the housing market
  2. Unemployment BenefitsCanadian workers who are laid off can receive what is now known as Employment Insurance, but until 1996 it was called Unemployment Insurance. Canadian workers pay into a central fund that contributors can draw on if later unable to work. Since 1990, there is no government contribution to this fund. The amount a person receives and how long they can stay on EI varies with their previous salary, how long they were working, and the unemployment rate in their area. The EI system is managed by Service Canada, a service delivery network reporting to the Minister of Human Resources and Social Development Canada.
  3. Low Income SupportAll provinces maintain a program of this sort known by names such as “social assistance”, “income support”, “income assistance” and “welfare assistance”; popularly they are known as welfare. The purpose of these programs is to alleviate extreme poverty by providing a monthly payment to people with little or no income. The rules for eligibility and the amount given vary widely between the provinces.
  4. SeniorsMost Canadian seniors are eligible for Old Age Security, a taxable monthly social security payment. In addition, most former workers can receive Canada Pension Plan or Quebec Pension Plan benefits based on their contributions during their careers. As well many people have a private pension through their employer, although that is becoming less common, and many people take advantage of a government tax-shelter for investments called a Registered Retirement Savings Plan or may save money privately.
  5. Regional AidBecause Canada is highly regionally disparate, the federal government has several agencies dedicated to developing specific regions. It should also be noted that regional disparities are also a source of tension within other programs listed above, especially healthcare and Employment Insurance.
    • Indian and Northern Affairs Canada
    • Atlantic Canada Opportunities Agency
    • Economic Development Agency of Canada for the Regions of Quebec
    • Federal Economic Development Initiative for Northern Ontario
    • Western Economic Diversification Canada

     

  6. Aboriginal PeopleBecause responsibility for “Indians” was given to the federal government in the constitution, because of cultural and historical differences from the rest of the population, and because aboriginals in Canada suffer from higher rates of most social problems, social programs for Indians, Metis, and Inuit, are often run separately.
  7. Children and FamiliesUsually each province has a department or ministry in charge of child welfare and dealing with adoption, foster care, etc. As of 2007 the federal government also offers the Universal Child Care Benefit to subsidize the cost of daycare spots or other forms of childcare.
 
 

Factors Affecting Choice of Destination Country


Below are some reasons that determines where an Indonesian student would go for overseas studies:

•The availability of information about the country and its system of education:
Having several information about a country eliminates unwanted mystery (about safety, way of life and other considerations) for the parents and makes them more confident to be away from their children. It also helps them and the students choose the appropriate program to take.

•The presence of family members in the destination country:
Parents usually choose to send their children to study in countries where they have other children, relatives or friends who can help look after their children in their absence.

•Financial capability of the family
Ninety-five percent (95%) of Indonesians who go abroad to study are financed by their parents, whether for university or post-graduate studies. Consequently, they choose to send their children to countries that can meet their budget. For example, those with more money might choose to send their children to study in the United Kingdom or the United States, those with medium budget might choose to send their children to study in Australia and New Zealand, and those with lower budget might choose to send their children to study in Singapore or Malaysia.

•Status symbol
Some parents would choose to send their children to countries, which they think, would uplift their image in their community. In Indonesia, the United States and the United Kingdom are still considered the most prestigious countries because of their well-known universities and very high cost of living.

•Influence from friends and peers
Some students may want to go to a specific country and a specific school because all their friends go to that particular country/school.

•Influence from the education agents
There are also a small proportion of students who want to study overseas but do not know where to go to in terms of choice of country and schools. To gather information, they would normally visit education fairs and/or contact local education agent. In most cases, however, the education agents would advise the students to go to a school or country with whom they are connected with.

 
 

BLOG Contest


Hi Guys,

For those who love to write or share your thought anything about study in Canada or everything related to Canada, why don’t you apply for Canada Blog Contest!  GREAT PRIZE WAITING FOR YOU!!!

FOR FURTHER INFOS PLEASE GO TO THIS LINK BELOW:

http://www.studyandworkincanada.org/?sec=blog_rules_regulations

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.